Archive Pages Design$type=blogging

Islam Nusantara Fansurian

Oleh Affan Ramli Sejak dipromosikan oleh Nahdatul Ulama, Menteri Agama, dan Presiden Jokowi, ‘Islam Nusantara’ sebagai sebuah gagasa...

Oleh Affan Ramli

Sejak dipromosikan oleh Nahdatul Ulama, Menteri Agama, dan Presiden Jokowi, ‘Islam Nusantara’ sebagai sebuah gagasan sesungguhnya masih kosong. Pun demikian, perbincangannya makin meluas, baik pro maupun kontra. Sungguh harapan kepadanya terlanjur digantungkan, menjadi penangkal virus ekstrimisme dan takfirisme Islam yang bersumbu di dunia Arab.

Tulisan ini mengusulkan rangka-isi Islam Nusantara dan mendiskusikan mengapa gagasan ini harus bertolak dari pemikiran ontologis dan epistemologis filosof awal Nusantara, Hamzah Fansuri. Segala hal tentang Islam Nusantara yang diberitahukan kepada kita, hingga kini hanyalah ekspresi terluarnya. Seputar pendekatan membumikan Islam dengan cara inklusif, ramah-tamah dan kultural. Sayangnya, aspek ekspresi luaran Islam Nusantara dikampanyekan besar-besaran sebelum bangunan keilmuannya dibincangkan. Maka yang dihidangkan ke publik adalah langgam qiraah Nusantara, dimulai dari memperkenalkan langgam Jawa pada pembukaan Israk Mikraj di Istana Negara awal bulan lalu dan akan dilanjutkan dengan musabaqah baca Quran dengan berbagai qiraah langgam etnik-etnik di Indonesia.

Sebagai sebuah perspektif dan gerakan kebudayaan, Islam Nusantara harus terlebih dahulu menjelaskan bangunan dasar keilmuannya sebelum kecantikan ekspresi wajah permukaan dan kelembutan tampilan luaran. Bangunan ontologi (mabahisul wujud) dan epistemologinya (nadhariyatul makrifah) mesti diracik di awal. Di atas bangunan dasar itu disusun kerangka analisis (ushul fiqh) dan kerangka kerja (ushul tadbiq) Islam Nusantara dalam masyarakat Muslim Indonesia dan Asia Tenggara.

Fakta historis
Wajah lembut Islam Nusantara yang datang tanpa perang dan disebarkan tanpa senjata, itu fakta historis memang. Pertanyaannya, mengapa itu bisa terjadi dan mengapa berbeda dari kebanyakan tempat lain yang didatangi Islam dengan kekuatan? Jumhur ahli sejarah memberitahukan kita Islam awal yang mendatangi tanah nusantara adalah Islam sufisme (Amirul Hadi, 2010).

Fakta ini cukup menjelaskan mengapa Islam Nusantara berwajah lembut, inklusif, pluralis, dan kultural. Dalam doktrin dasar sufisme, kebenaran tidak dapat dimonopoli, penghakiman atas pandangan berbeda bukan sikap terpuji, inti Islam pada akhlak dan akhlak dibangun di atas bangunan akal budi (akal amali) yang diasaskan pada hikmah (filsafat) dan dipupuk dengan latihan spiritual.

Beruntungnya kita, Islam datang ke Nusantara ketika konstruksi ilmu agama di dunia Islam didominasi oleh pemikiran sufisme. Pada tahap sejarah berikutnya ketika ilmu agama didominasi teologi (kalam) dan studi hukum (fiqih) berbagai perdebatan agama di kalangan teolog dan fukaha melahirkan sejumlah perang dan rangkaian kekerasan dalam tubuh internal masyarakat Islam. Kedua ilmu terakhir berputar di pusaran teks (naql) yang melaluinya kekayaan spiritual manusia dan kebijaksanaan tinggi akal budi tidak dapat dipahami dan dibangun. Kemerosotan hikmah dan asas akal amali dalam masyarakat akibat terlalu dominannya ilmu agama berfokus-teks.

Berbeda dari kaum sufi yang membangun konstitusi akhlak sosial (bio-etik), teolog dan ahli fikih ingin membangun UU Syariat dan meyakini Islam harus ditegakkan dengan UU (kanun) negara. Dominasi teologi dan fikih awalnya terjadi di dunia Arab, kemudian merambah sepanjang Asia Selatan, terutama India. Maka seorang ulama India Nuruddin Ar-Raniry dengan latar tradisi pemikiran Islam Indianya yang keras datang ke Aceh, memercik noda hitam pertama pada wajah lembut Islam Nusantara melalui fatwanya mengkriminalkan paham Wujudiah yang dibangun oleh dua pendiri peradaban Islam sufistik kita, Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani.

Pengrusakan wajah Islam nusantara berikutnya dilakukan oleh aliran pemikiran baru yang menolak keabsahan sufisme Islam, disebut Wahabi. Sebuah paham yang lahir dari pengkristalan dominasi Kalam dan Fiqih, juga buah lansung dari sejarah kemenangan poros “supremasi-teks” dalam pemikiran Islam. Jadi, dimulai oleh Ar-Raniry dan dilanjutkan oleh Wahabi. Kini, kelembutan wajah Islam Nusantara terancam digantikan dengan wajah garang Ormas-ormas Islam fundamentalis yang didanai Arab Saudi dan negara-negara teluk lainnya.

Bagi saya, tumbuh suburnya ekstrimisme dan takfirisme di dunia Islam adalah buah dari struktur epistemologi ilmu agama dan terisoloasinya sufisme dari panggung kebudayaan masyarakat muslim. Situasi ini menyediakan lahan subur bagi kekuatan imperialis Amerika dan Eropa bermain. Menjalankan agenda perang proxy berbasis kepentingan geopolitik dan geo-ekonomi mereka di negara-negara Muslim, terutama di kawasan Timur Tengah. Faktanya, di negara-negara Afrika Utara yang kebudayaannya berakar pada pemikiran sufisme, mereka lebih memiliki “kekebalan” pada sistem tubuh sosialnya dari serangan ekstremisme dan takfirisme. Maroko dan Aljazair, untuk menyebutkan beberapa di antaranya, mereka punya perisai efektif.

Padangan Fansuri
Islam Nusantara, perisai kosong ini karenanya harus segera diisi. Pertama, merumuskan mabahisul wujud dan nadhariyatul makrifat-nya. Dan, kedua, menyusun Ushul Fiqih dan Ushul Tadhbiq-nya. Pada tahap pertama, pandangan tasawuf-falsafi Hamzah Fansuri harus diriset ulang, terutama ontologi Wahdatul Wujud dan epistemologi Irfaninya. Penggalian pandangan tasawuf-falsafi Fansuri mau tidak mau akan membawa kita pada Ibnu Arabi sebagai mahaguru sufi yang mempengaruhi pandangan-pandangan Fansuri. Sebagaimana dicatat Muthahari (2010), puncak pemikiran sufi di dunia Islam secara keseluruhan memang berada di tangan Ibnu Arabi, lewat magnum opus Fushushul Hikam dan Futuhat Makiyah-nya.

Fansuri tersambung kepada pemikiran Ibnu Arabi melalui Al-Jili, adalah salah satu dari 12 komentator besar (pensyarah) karya-karya Ibnu Arabi. Usaha mengenali ontologi dan epistemologi Fansuri karenanya selain dengan mengkaji ulang karya-karyanya, juga dengan mendalami dua tokoh besar sufi yang telah mempengaruhinya, Ibnu Arabi dan Al-Jili. Pemikiran Fansuri juga harus dipelajari lewat syarah murid utamanya, Syamsudin As-Sumatrani. Langkah terakhir meneliti Fansuri dengan membaca hasil studi sarjana kontemporer tentangnya, di antaranya adalah Syed Naquib Al-Attas.

Begitu peletakan ontologi dan epistemologinya selesai, kerangka analisis dan kerangka kerjanya dibangun. Kerangka analisis untuk menjadikannya alat baca gejala kekerasan berbasis agama, kerangka kerja sebagai pedoman negara dan masyarakat sipil mereduksi risiko kekerasan-kekerasan itu. Pada diskusi kerangka kerjanya, patut ditegaskan Islam Nusantara yang Fansurian adalah Islam sufisme. Adalah Islam yang membangun tamadun manusia dengan konstitusi akhlak sosial (bio-etik) dan akhlak personal (revolusi mental).

Pelembagaan akhlak sosial pada akhirnya dimenangkan dengan aturan-aturan adat, bukan undang-undang Syariat yang pada hakikatnya memang tidak ada. Adapun akhlak personal dilatih dan disiplinkan melalui program-program spiritual (tarikat) yang sangat banyak variannya.

Masyarakat muslim di Indonesia harus terorganisasi dan terkonsolidasi dalam komunitas-komunitas tarikat, seperti pernah dipraktikkan masyarakat Aceh abad 16 dan 17. Komunitas-komunitas tarikat pada hakikatnya adalah komunitas perlawanan terhadap berbagai bentuk kezaliman (eksploitasi) dalam sistem sosial, ekonomi, dan politik.

Islam Nusantara Fansurian demikian itu sungguh dapat menjadi perisai pemikiran dan kebudayaan, menghadang serangan virus ekstrimisme dan takfirisme Islam yang sedang ditularkan dari Timteng ke wilayah Nusantara Melayu Raya. Jika proyek membangun Islam Nusantara ini gagal, Indonesia akan segera menyusul nasib Suriah, Irak, Libanon, dan Yaman. Pertumpahan darah dari fitnah-fitnah besar tanpa akhir!

* Affan Ramli, Dosen Sosiologi Agama, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: fan.syatariah@gmail.com | Sumber: Serambi Indonesia

COMMENTS

Name

akhlaq Aqidah biografi Dayah Download Dunia Muslim Fiqih Haji hijab Ibadah Islam jamaah Jinayah Jumat khutbah Masjid menulis mesjid Motivasi Muamalah Nikah PELAJAR Perpustakaan Puasa quote quran qurban Ramadhan safari santri sejarah Shalat Syar'i Tafsir Tarawih Tasawwuf Tauhid Thaharah tokoh Ulama Video Warisan zakat
false
ltr
item
Catatan Fiqih: Islam Nusantara Fansurian
Islam Nusantara Fansurian
http://lh3.googleusercontent.com/-fwW2EXHXXGg/Vb39qYVcV6I/AAAAAAAAEIM/wltFfvCdSjU/s640/islam.jpg
http://lh3.googleusercontent.com/-fwW2EXHXXGg/Vb39qYVcV6I/AAAAAAAAEIM/wltFfvCdSjU/s72-c/islam.jpg
Catatan Fiqih
http://www.catatanfiqih.com/2015/08/islam-nusantara-fansurian.html
http://www.catatanfiqih.com/
http://www.catatanfiqih.com/
http://www.catatanfiqih.com/2015/08/islam-nusantara-fansurian.html
true
7393550621511658776
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All BACA JUGA LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago