Archive Pages Design$type=blogging

Kisah Taubat Wahsyi

Sejarah mencatat, Wahsyi adalah seorang bekas budak kulit hitam dari Ethiopia milik Hindun binti Utbah yang menjadi terkenal karena mampu ...

Sejarah mencatat, Wahsyi adalah seorang bekas budak kulit hitam dari Ethiopia milik Hindun binti Utbah yang menjadi terkenal karena mampu membunuh paman Nabi Muhammad SAW yang memiliki julukan "Singa Allah" yakni, Hamzah bin Abdul Muthalib dan setelah ia memeluk Islam beliau berhasil membunuh Musailamah al-Kazzab sang Nabi Palsu saat pertempuran Yamamah pada zaman Khalifah Abu Bakar.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ketika Wahsyi ingin bertobat dan memeluk Islam, ia menuliskan surat kepada Rasulullah saw yang menyatakan bahwa ia ingin masuk Islam. Namun ada satu ayat yang sangat mengganjal hati Wahsyi, yaitu ayat yang berbunyi :

وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَلَا يَزۡنُونَۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ يَلۡقَ أَثَامٗا 
٦٨
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya) (QS. Al Furqan, 68)

Mendengar ayat ini, Wahsyi merasa dirinya telah mengerjakan tiga dosa sekaligus, mungkinkah ia bisa bertobat. Kemudian turunlah ayat yang berbunyi :
إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلٗا صَٰلِحٗا فَأُوْلَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّ‍َٔاتِهِمۡ حَسَنَٰتٖۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ٧٠
kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al Furqan, 70)
Rasulullah menjawab surat Wahsyi dengan turunnya ayat tersebut; namun Wahsyi menulis surat lagi bahwa dalam ayat itu dipersyaratkan adanya amal shalih, padahal ia belum pernah mengerjakan amalan yang shalih. Kemudian turunlah ayat yang berbunyi:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا ٤٨
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar (QS. An Nisa, 48)

Rasulullah menjawab lagi surat Wahsyi itu tentang adanya ayat tersebut; namun Wahsyi menulis surat lagi yang menyatakan bahwa pada ayat itu juga terdapat persyaratan, sedangkan ia tidak tahu apakah kira-kira Allah menghendaki dirinya untuk diampuni atau tidak. Kemudian turun ayat lagi yang berbunyi:

۞قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ٥٣
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Az Zumar, 53)

Kemudian Rasulullah menulis surat lagi kepada Wahsyi, dan disitu Wahsyi melihat tidak ada persyaratan apapun lagi, lalu ia segera ke Madinah dan masuk Islam.

Kiranya kisah Wahsyi bisa menjadi pelajaran penting bagi kita untuk tidak berputus asa terhadap keampunan Allah jika telah terlanjur berbuat dosa yakni dengan bertobat setulus hati. Rabi’ah Adawiyah pernah mengatakan : “sesungguhnya permohonan ampun kita itu memerlukan ampun yang serius dan dengan janji”. Maksudnya apabila seseorang itu mohon ampun dengan lisan, namun ia mempunyai niat untuk mengulangi dosa itu lagi, maka tobatnya adalah sama dengan tobatnya orang-orang yang bohong, tobat semacam ini bukanlah tobat. Tobat yang benar adalah yang diucapkan dengan lisan dan hatinya berniat untuk tidak mengulanginya lagi. Bila demikian halnya, maka Allah swt suka mengampuni dan maha pengasih terhadap hamba-Nya.

Tersebut dalam kitab Tanbihul Ghafilin, ada empat tanda taubat seseorang telah diterima oleh Allah Ta’ala, yaitu:Memutuskan hubungan dengan teman-teman yang jahat, serta menjalin hubungan dan bergaul dengan orang yang shalih. Menghentikan semua perbuatan maksiat dan rajin untuk mengerjakan ibadah. Mengeyampingkan kesenangan dunia dari dalam hatinya, dan selalu teringat akan siksa akhirat.Tawakkal dalam masalah rezki, dimana ia sangat percaya akan jaminan dari Allah Ta’ala disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam segala hal yang diperintahkan Nya. 

Referensi : Kitab Tanbihul Ghafilin, Bab Taubat
Name

akhlaq Aqidah biografi Dayah Download Dunia Muslim Fiqih Haji hijab Ibadah Islam jamaah Jinayah Jumat khutbah Masjid menulis mesjid Motivasi Muamalah Nikah PELAJAR Perpustakaan Puasa quote quran qurban Ramadhan safari santri sejarah Shalat Syar'i Tafsir Tarawih Tasawwuf Tauhid Thaharah tokoh Ulama Video Warisan zakat
false
ltr
item
Catatan Fiqih: Kisah Taubat Wahsyi
Kisah Taubat Wahsyi
Catatan Fiqih
http://www.catatanfiqih.com/2014/12/kisah-taubat-wahsyi.html
http://www.catatanfiqih.com/
http://www.catatanfiqih.com/
http://www.catatanfiqih.com/2014/12/kisah-taubat-wahsyi.html
true
7393550621511658776
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All BACA JUGA LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago