Archive Pages Design$type=blogging

Memadinahkan Indonesia

Jauh sebelum Baginda Nabi Muhammad saw lahir, dunia dikuasai oleh dua kubu besar yang menjadi pusat peradaban dunia, yaitu Persia dan Ro...

Jauh sebelum Baginda Nabi Muhammad saw lahir, dunia dikuasai oleh dua kubu besar yang menjadi pusat peradaban dunia, yaitu Persia dan Romawi, dan juga ada Yunani dan India yang menyertainya. Persia pada masa itu menjadi ajang pertarungan berbagai aliran agama dan filsafat. Umumnya masyarakat Persia menganut ajaran Zoroaster dan Mazdakiyah, salah satu ajaran dari kepercayaan Zoroaster adalah menganjurkan setiap lelaki untuk menikahi keluarganya sendiri, baik itu ibu atau saudara perempuan. Kepercayaan Mazdakiyah juga tidak kalah sesat, dalam ajaran tersebut semua wanita hukumnya halal sehingga boleh bersuka ria dengan siapapun yang diinginkan.[1]

Sedangkan yang terjadi di Romawi juga tidak kalah parah, disana juga terjadi konflik berkepanjangan dengan Kaum Nasrani Syiria, misi mereka ingin menyebarkan kristen yang telah mereka modifikasi. Selain itu kemerosotan ekonomi juga sedang melanda dengan pajak yang begitu mencekik rakyat.

Sementara di Yunani, disana masih tenggelam dengan berbagai mitologi dan takhayul serta debat kusir masalah filsafat yang tidak pernah ada ujungnya. Situasi yang terjadi di India juga tidak jauh berbeda, kemunduran terjadi disegala aspek, moral yang merosot dan nilai-nilai agama yang terus tergerus.

Melihat realita yang terjadi pada masa itu, menjadi jelaslah kenapa Rasulullah saw diutus ke dunia, salah satu alasannya adalah untuk menyempurnakan akhlaq. Sementara Arab pada masa itu belumlah mengeyam kemewahan dan kemegahan seperti romawi dan persia, mereka masih jauh dari peradaban yang luhur, dan kegelapan masih menyelimutinya. Banyak dari mereka yang tersesat bahkan tega membunuh anak perempuan dengan dalih menjaga kehormatan, perempuan kala itu dilahirkan hanya untuk melahirkan dan hanya sebagai pemuas belaka. Selain itu, peperangan antar kabilah telah menjadi semacam ajang untuk menujukkan eksitensi diri kala itu, hukum rimba berlaku maka yang kuatlah yang menjadi penguasa.

Di tengah situasi yang carut marut itulah Rasulullah lahir. Di awal-awal dakwahnya, beliau menyerukan untuk kembali ke ajaran Tauhid yang lurus yang jauh dari hal-hal yang berbau kemusyrikan. Beliau juga mempersatukan suku-suku Arab sehingga dalam kurun waktu 23 tahun sejak beliau diangkat menjadi seorang Rasul, Arab pun telah berubah menjadi sebuah kekuatan baru yang menggemparkan dunia. Mereka telah diterangi dengan cahaya Ilahi yang mengarahkan kehidupan ke jalan yang benar.

Keteladanan Rasulullah terdapat dalam segala aspek kehidupan. Di rumah, beliau adalah seorang suami yang penuh cinta dan sekaligus ayah yang penyayang. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu 'anha, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda : "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku".[2] Keluarga bisa dikatakan sebagai sebuah miniatur kehidupan, disana ada pemimpin yang dilakoni oleh suami dan istri sebagai menteri yang membantu kinerjanya, sementara anak-anak adalah rakyat. Suksesnya kehidupan rumah tangga akan berimbas kepada kehidupan yang lebih luas. Bahkan dalam masalah mengimami shalat, yang paling diutamakan untuk menjadi imam adalah yang lebih alim, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw. Yang menjadi imam bagi suatu kaum adalah orang yang lebih aqra' pada kitabullah. Bila peringkat mereka sama dalam masalah qiraat, maka yang lebih paham dengan sunnah. Bila peringkat mereka sama, maka yang lebih dahulu berangkat hijrah. Bila peringkat mereka sama, maka yang lebih banyak usianya. Namun janganlah seorang menjadi imam buat orang lain di wilayah kekuasaan orang lain itu, jangan duduk di rumahnya kecuali dengan izinnya. (HR. Muslim). Hal ini bertujuan agar terciptanya tatanan kehidupan yang baik, Pemimpin yang lebih Alim diharapkan mampu mengarahkan rakyatnya ke jalan yang benar. Pemimpin yang alim tentu saja akan lebih khusu' ,dengan sikap khusu' moga-moga akan lebih fokus sehingga peluang terjadinya kesalahan akan lebih kecil.

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadist di atas, Rasulullah adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya. Dapat kita pahami disini kedatangan Beliau telah mengangkat harkat dan martabat perempuan. Wanita telah menempati posisi yang terhormat, dulunya kepada wanita tidak diberi harta warisan, jika meninggal suami maka seluruh harta akan dikuasai oleh keluarga suami, demikian juga dengan anak perempuan jika ayahnya meninggal maka seluruh harta bakal dikuasai oleh para wali. Namun ironis, di zaman modern ini atas nama kesetaraan gender, ayat warisan digugat karena konon katanya tidak ada keadilan. Inilah salah satu akibat dari melogikakan agama tanpa dilandasi dengan nilai-nilai keimanan. Memang ada hal-hal tertentu yang telah sanggup dijangkau oleh logika dan juga masih banyak topik-topik yang belum bisa dijangkau logika, disinilah peranan dari keimanan. Wahyu lebih didahulukan dibandingkan akal, namun demikian akal menjadi pendukung dalam memahami wahyu. Betapa banyak ayat quran yang mengajak manusia untuk berfikir tentang berbagai tanda-tanda kekuasaan-Nya. Manusia yang sehat pemikirannya tentu saja ia tidak ingin kembali kepada situasi yang terjadi pada Romawi ataupun Persia di masa lalu, sehingga meneladani segala tingkah laku Rasulullah adalah sebuah keniscayaan.

Dalam Surat Al-A'raf : 96 Allah Ta'ala berfirman;
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."

Dari berbagai Ayat yang mengisahkan mengenai bangsa-bangsa yang sudah musnah, kebanyakan dari mereka adalah pembangkang yang telah mendustakan titah Tuhan. Negeri ini pun juga bisa hancur jika tidak diarahkan dengan petunjuk yang benar. Sejarah mencatat, Rasulullah telah mengubah Yastrib menjadi Madinah yang penuh dengan kedamaian, dengan kultur masyarakat yang begitu majmuk namun semuanya bersatu padu dalam bingkai Syariat Islam. Telah nyatalah kebenaran wahyu-Nya, keimanan dan ketaqwaan menjadi washilah turunnya Rahmat dan berkah dari Tuhan semesta alam.


[1] Fiqih Sirah, Dr. Said Ramadhan Al-Buthi
[2] HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977
Name

akhlaq Aqidah biografi Dayah Download Dunia Muslim Fiqih Haji hijab Ibadah Islam jamaah Jinayah Jumat khutbah Masjid menulis mesjid Motivasi Muamalah Nikah PELAJAR Perpustakaan Puasa quote quran qurban Ramadhan safari santri sejarah Shalat Syar'i Tafsir Tarawih Tasawwuf Tauhid Thaharah tokoh Ulama Video Warisan zakat
false
ltr
item
Catatan Fiqih: Memadinahkan Indonesia
Memadinahkan Indonesia
http://2.bp.blogspot.com/-tDOhUYQsiNA/VLky4S94wJI/AAAAAAAACww/uiOU8wG4xOk/s1600/masjid-nabawi-madinah-saudi-arabia1.jpg
http://2.bp.blogspot.com/-tDOhUYQsiNA/VLky4S94wJI/AAAAAAAACww/uiOU8wG4xOk/s72-c/masjid-nabawi-madinah-saudi-arabia1.jpg
Catatan Fiqih
http://www.catatanfiqih.com/2015/01/memadinahkan-indonesia.html
http://www.catatanfiqih.com/
http://www.catatanfiqih.com/
http://www.catatanfiqih.com/2015/01/memadinahkan-indonesia.html
true
7393550621511658776
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All BACA JUGA LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago