Archive Pages Design$type=blogging

Interpretasi Mengenai Aurat Wanita Secara Komprehensif

Aurat wanita terbagi kedua hukum,ada ulama yang mewajibkan menutup aurat  dengan memakai purdah(cardar) dan ada yang tidak mewajibkan m...


Aurat wanita terbagi kedua hukum,ada ulama yang mewajibkan menutup aurat  dengan memakai purdah(cardar) dan ada yang tidak mewajibkan memakainya(hanya memakai jilbab saja) Dalam kajian ini,Tujuannya bukan mencari titik perbedaan dan berselisih pendapat, melainkan untuk memberikan Irsyad (memberikan petunjuk gambaran) yang lengkap tentang dasar isitmbath kedua pendapat ini agar kita bisa berbaik sangka dan tetap menjaga hubunngan baik dengan kedua belah pihak.

#A.)Ulama Yang Mewajibkan Menutup Wajah dan Tangan 

Dalil-dalil yang mereka kemukakan antara lain :
#1.Al-Quran
#a. Surat Al-Ahzab : 59
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا 
`Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu`min: `Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka`. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.` (QS. Al-Ahzhab : 59)

#Imam Suyuthi(911 H)
جمع جلباب وهي الملاءة التي تشتمل بها المرأة، أي يرخين بعضها على الوجوه إذا خرجن لحاجتهن إلا عينا واحدة
 «ذلك أدنى» أقرب إلى «أن يعرفن».
lafal Jalaabiib adalah bentuk jamak dari lafal Jilbaab, yaitu kain yang dipakai oleh seorang wanita untuk menutupi seluruh tubuhnya. Maksudnya hendaknya mereka mengulurkan sebagian daripada kain jilbabnya itu untuk menutupi muka mereka, jika mereka hendak keluar karena suatu keperluan, kecuali hanya bagian yang cukup untuk satu mata. (Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah) lebih gampang (untuk dikenal)
(Tafsir Jalaalain hal 559) 

#2.Hadits Wanita itu Aurat 
Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَان

 “Wanita adalah aurat, jika dia keluar maka syetan akan mengawasinya”

#3.Menurut Kitab Klasik Mazhab Mewajibkan Menutup Wajah dan Tangan 
#a.Menurut Sebagian Fuqaha Mazhab Hanafi’
#1a) Al Allamah Al Hashkafi

والمرأة كالرجل ، لكنها تكشف وجهها لا رأسها ، ولو سَدَلَت شيئًا عليه وَجَافَتهُ جاز ، بل يندب 

“Aurat wanita dalam shalat itu seperti aurat lelaki. Namun wajah wanita itu dibuka sedangkan kepalanya tidak. Andai seorang wanita memakai sesuatu di wajahnya atau menutupnya, boleh, bahkan dianjurkan”
 (Ad Durr Al Mukhtar, 2/189)

#b.Menurut Sebagian Fuqaha Mazhab Maliki
#1b) Az Zarqaani(1122h)

وعورة الحرة مع رجل أجنبي مسلم غير الوجه والكفين من جميع جسدها ، حتى دلاليها وقصَّتها . وأما الوجه والكفان ظاهرهما وباطنهما ، فله رؤيتهما مكشوفين ولو شابة بلا عذر من شهادة أو طب ، إلا لخوف فتنة أو قصد لذة فيحرم ، كنظر لأمرد ، كما للفاكهاني والقلشاني
“Aurat wanita di depan lelaki muslim ajnabi adalah seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan. Bahkan suara indahnya juga aurat. Sedangkan wajah, telapak tangan luar dan dalam, boleh dinampakkan dan dilihat oleh laki-laki walaupun wanita tersebut masih muda baik sekedar melihat ataupun untuk tujuan pengobatan. Kecuali jika khawatir timbul fitnah atau lelaki melihat wanita untuk berlezat-lezat, maka hukumnya haram, sebagaimana haramnya melihat amraad. Hal ini juga diungkapkan oleh Al Fakihaani dan Al Qalsyaani”
(Syarh Mukhtashar Khalil, 176).

#2b) Al Hathab

واعلم أنه إن خُشي من المرأة الفتنة يجب عليها ستر الوجه والكفين . قاله القاضي عبد الوهاب ، ونقله عنه الشيخ أحمد زرّوق في شرح الرسالة ، وهو ظاهر التوضيح 
“Ketahuilah, jika dikhawatirkan terjadi fitnah maka wanita wajib menutup wajah dan telapak tangannya. Ini dikatakan oleh Al Qadhi Abdul Wahhab, juga dinukil oleh Syaikh Ahmad Zarruq dalam Syarhur Risaalah. Dan inilah pendapat yang lebih tepat” (Mawahib Jaliil, 499) 


#c.Menurut Sebagian Fuqaha Mazhab Syafii
#1c) Imam Haramain al-Juwaini(478h) 
مع اتفاق المسلمين على منع النساء من التبرج والسفور وترك التنقب 
"disertai kesepakatan kaum muslimin untuk melarang para wanita dari melakukan tabarruj dan membuka wajah mereka dan meninggalkan cadar…" (Nihaayatul Mathlab fi Dirayatil Madzhab 12/31)

#2c) Syarwani (1301h)
وإنما حرم نظرهما الخ) أي الوجه والكفين من الحرة ولو بلا شهوة، قال الزيادي في شرح المحرر بعد كلام: وعرف بهذا التقرير أن لها ثلاث عورات عورة في الصلاة وهو ما تقدم، وعورة بالنسبة لنظر الاجانب إليها جميع بدنها حتى الوجه والكفين على المعتمد، وعورة في الخلوة وعند المحارم كعورة الرجل اه.

Sesungguhnya diharamkan melihat wajah dan telapak tangannya meskipun tanpa disertai syahwat, az-Ziyaadi(1024h)  berkata “Dengan demikian dapat disimpulkan auratnya terbagi tiga :
 Saat shalat yakni seperti keterangan yang telah mutaqaddimin
(seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya),
2. Saat dinisbatkan penglihatan lelaki lain yakni keseluruhan tubuhnya hingga wajah dan kedua telapak tangannya menurut pendapat yang mu’tamad
3. Saat bersama mahram serta saat sendiri seperti auratnya orang lai-laki (anggauta antara pusat dan lutut). 
(Hawasyi Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj,juz 2 hal.112)

#3c) Sayyid Bakri Syatha Al-Dimiyati(1310h) 
قال في فتح الجواد: ولا ينافيه، أي ما حكاه الإمام من اتفاق المسلمين على المنع، ما نقله القاضي عياض عن العلماء أنه لا يجب على المرأة ستر وجهها في طريقها، وإنما ذلك سنة، وعلى الرجال غض البصر لأن منعهن من ذلك ليس لوجوب الستر عليهن، بل لأن فيه مصلحة عامة بسد باب الفتنة. نعم، الوجه وجوبه عليها إذا علمت نظر أجنبي إليها أخذا من قولهم يلزمها ستر وجهها عن الذمية، ولأن في بقاء كشفه إعانة على الحرام.اه.

Telah Berkata Mushannif Fath al-Jawad mengatakan, “Apa yang diberitahukan oleh al-Imam(Imam   al Haramain)  bahwa sepakat kaum muslimin atas terlarang (terlarang wanita keluar dengan terbuka wajah) tidak berlawanan dengan yang dikutip oleh Qadhi ‘Iyadh dari ulama bahwa tidak wajib atas wanita menutup wajahnya pada jalan, yang demikian itu hanya sunnah dan hanyasanya atas laki-laki wajib menundukkan pandangannya, karena terlarang wanita yang demikian itu bukan karena wajib menutup wajah atas mereka, tetapi karena di situ ada maslahah yang umum dengan menutup pintu fitnah. Namun menurut pendapat yang kuat wajib menutupnya atas wanita apabila diketahuinya ada pandangan laki-laki ajnabi kepadanya, karena memahami dari perkataan ulama “wanita wajib menutup wajahnya dari kafir zimmi” dan juga karena membiarkan terbuka wajah membantu atas sesuatu yang haram. (I’anah al-Thalibin  Juz 3 258-259)

#4c) Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi (918h)

وجميع بدن المرأة الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وهذه عورتها في الصلاة ، أما خارج الصلاة فعورتها جميع بدنها
“Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan”.
 (Fathul Qarib, 19).

#5c) Syaikh Nawawi Al-Jawi Al-Bantani(1312h
رابعتها جميع بدنها حتى قلامة ظفرها وهي عورتها عند الرجال
الأجانب فيحرم على الرجل الأجنبي النظر إلى شيء من ذلك ويجب على المرأة ستر ذلك عنه

Auratnya yang keempat adalah keseluruhan tubuhnya hingga potongan kukunya yakni auratnya saat bersama lelaki lain, maka haram bagi laki-laki lain melihat sesuatu dari tubuhnya dan wajib bagi wanita menutup tubuhnya dari lelaki lain.
( Nihaayah az-Zain 1/47 )

#d.Menurut Sebagian Fuqaha Mazhab Hanbali 
#1d) Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al ‘Anqaari,

« وكل الحرة البالغة عورة حتى ذوائبها ، صرح به في الرعاية . اهـ إلا وجهها فليس عورة في الصلاة . وأما خارجها فكلها عورة حتى وجهها بالنسبة إلى الرجل والخنثى وبالنسبة إلى مثلها عورتها ما بين السرة إلى الركبة

“Setiap bagian tubuh wanita yang baligh adalah aurat, termasuk pula sudut kepalanya. Pendapat ini telah dijelaskan dalam kitab Ar Ri’ayah. kecuali wajah, karena wajah bukanlah aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, semua bagian tubuh adalah aurat, termasuk pula wajahnya jika di hadapan lelaki atau di hadapan banci. Jika di hadapan sesama wanita, auratnya antara pusar hingga paha” (Raudhul Murbi’, 140)

B.Ulama Yang Tidak Mewajibkan Menutup Wajah dan Tangan
Dalil-dalil yang mereka kemukakan antara lain : 
1.Al-Quran
a. Surat An-Nur : 31

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ 
Katakanlah kepada wanita yang beriman: `Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya` (QS. An-Nur : 31).

Ibnu Katsir(774 H)

ويحتمل أن ابن عباس ومن تابعه أرادوا تفسير ما ظهر منها بالوجه والكفين، وهذا هو المشهور عند الجمهور 

“Ibnu Abbas dan dari orang-orang yang mengikutinya(para tabi’in) memaknai maksud “Maa zhahara minha (yang nampak dari padanya)” adalah wajah dan kedua telapak tangan, inilah yang masyhur menurut mayoritas ulama. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Juz. 6, Hal. 45)

2.Hadits Al Fadl Ibnu Abbas Melihat Wanita Cantik(Terjadi Pada Haji Wada’)

أَخْبَرَنَا أَبُو دَاوُدَ قَالَ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ يَسَارٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُأَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْحَجِّ عَلَى عِبَادِهِ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَوِي عَلَى الرَّاحِلَةِ فَهَلْ يَقْضِي عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ فَأَخَذَ الْفَضْلُ يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا وَكَانَتْ امْرَأَةً حَسْنَاءَ وَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَضْلَ فَحَوَّلَ وَجْهَهُ مِنْ الشِّقِّ الْآخَرِ 

Telah mengabarkan kepada kami [Abu Dawud] ia berkata; telah menceritakan kepada kami [Ya'qub bin Ibrahim] ia berkata; telah menceritakan kepadaku [bapakku] dari [Shalih bin Kaisan] dari [Ibnu Syihab] bahwa [Sulaiman bin Yasar] mengabarkan kepadanya, bahwa [Ibnu Abbas] mengabarkan kepadanya, bahwa ada seorang wanita dari Khats'am berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban haji yang Allah bebankan kepada hamba-hamba-Nya telah datang kepada bapakku di saat umurnya sudah tua dan tidak lagi sanggup berkendaraan. Maka apakah sah jika aku menghajikan untuknya?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu bersabda kepadanya: "Ya." Al Fadll langsung mencuri panjang kepada wanita itu -ia adalah wanita yang sangat cantik-, sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memegang Al Fadll dan memalingkan wajahnya ke arah lain
(HR.Nasa’i No.5297 diriwayatkan juga oleh Bukhari,Muslim dan lainnya) 

3.Menurut Kitab Klasik Mazhab Tidak Mewajibkan Menutup Wajah dan Tangan
a.Menurut Sebagian Fuqaha Mazhab Hanafi’
1a) Imam Kamaluddin

وَبَدَنُ الْحُرَّةِ كُلِّهَا عَوْرَةٌ إلَّا وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا   لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ { الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ مَسْتُورَةٌ } وَاسْتِثْنَاءُ الْعُضْوَيْنِ لِلِابْتِدَاءِ بِإِبْدَائِهِمَا
Tubuh wanita merdeka semuanya adalah aurat kecuali  wajah dan dua telapak tangannya, sesuai hadits: “Wanita adalah aurat yang tersembunyi” dikecualikan dua anggota badan itu sebagai ujian dengan menampakkannya

وَيُرْوَى أَنَّهَا لَيْسَتْ بِعَوْرَةٍ وَهُوَ الْأَصَحُّ
“Diriwayatkan bahwa telapak kaki bukanlah aurat, dan itulah yang lebih benar.
(Fathul Qadir, Juz. 1, Hal. 494) 


b.Menurut Sebagian Fuqaha Mazhab Maliki
1b) Syaikh Abdurrahman Al-Bunani(1198h), menjelaskan pendapat Az Zarqani
(1122h)
 di atas:
وهو الذي لابن مرزوق في اغتنام الفرصة قائلًا : إنه مشهور المذهب ، ونقل الحطاب أيضًا الوجوب عن القاضي عبد الوهاب ، أو لا يجب عليها ذلك ، وإنما على الرجل غض بصره ، وهو مقتضى نقل مَوَّاق عن عياض . وفصَّل الشيخ زروق في شرح الوغليسية بين الجميلة فيجب عليها ، وغيرها فيُستحب

Pendapat tersebut juga dikatakan oleh Ibnu Marzuuq dalam kitab Ightimamul Furshah, ia berkata: ‘Inilah pendapat yang masyhur dalam madzhab Maliki’. Al Hathab juga menukil perkataan Al Qadhi Abdul Wahhab bahwa hukumnya wajib. Sebagian ulama Maliki menyebutkan pendapat bahwa hukumnya tidak wajib namun laki-laki wajib menundukkan pandangannya. Pendapat ini dinukil Mawwaq dari Al Qadhi Iyadh. Syaikh Zarruq dalam kitab Syarhul Waghlisiyyah menjelaskan, jika cantik maka wajib, jika tidak cantik maka mustahhab”.
(Hasyiyah ‘Ala Syarh Az Zarqaani, 176).

2b) Imam Al Kharasyi( Imam Besar Al-Azhar(Kurun Pertama)1101h)

المعنى أن عورة الحرة مع الرجل الأجنبي جميع بدنها حتى دلاليها وقصتها ما عدا الوجه والكفين ظاهرهما وباطنهما فيجوز النظر لهما بلا لذة ولا خشية فتنة من غير عذر ولو شابة وقال مالك تأكل المرأة مع غير ذي محرم ومع غلامها وقد تأكل مع زوجها وغيره

“Maknanya adalah bahwa aurat wanita merdeka di depan laki-laki asing adalah adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan dua telapak tangan, baik bagian luar atau dalam. Maka, boleh melihatnya tanpa berlezat-lezat, dan tidak dikhawatiri lahirnya fitnah, boleh tanpa ada udzur walau pun masih muda. Imam Malik berkata: Wanita boleh makan bersama orang lain tanpa mahramnya namun ditemani oleh anaknya, dan dia makan bersama suaminya dan orang lain.” ( Syarh Kharasy ‘Ala Mukhtashar Sayyidi Khalil 3/201)

3b) Imam Muhammad  ‘Ailiyisy Al-Maliki ( Mufti Maliki Al-Azhar 1299h)

فَالْوَجْهُ وَالْكَفَّانِ لَيْسَا عَوْرَةً فَيَجُوزُ لَهَا كَشْفُهُمَا لِلْأَجْنَبِيِّ وَلَهُ نَظَرُهُمَا إنْ لَمْ تُخْشَ الْفِتْنَةُ فَإِنْ خِيفَتْ الْفِتْنَةُ بِهِ فَقَالَ ابْنُ مَرْزُوقٍ مَشْهُورُ الْمَذْهَبِ وُجُوبُ سَتْرِهِمَا وَقَالَ عِيَاضٌ لَا يَجِبُ سَتْرُهُمَا وَيَجِبُ عَلَيْهِ غَضُّ بَصَرِهِ 

“Maka, wajah dan dua telapak tangan bukanlah aurat, boleh keduanya dibuka didepan laki-laki ajnabi (asing), dan dia melihat keduanya jika tidak khawatir timbul fitnah. Jika takut lahirnya fitnah, maka Ibnu Marzuq berkata –ini merupakan pendapat terkenal dalam madzhab (Maliki)- wajib baginya menutup keduanya. Berkata Qadhi ‘Iyadh: Tidak wajib menutupnya, tetapi wajib bagi si laki-laki menundukkan pandangannya”
(Minah Al Jalil Syarh Mukhtashar   Khalil: Juz. 1, Hal. 133)

أولى والرجل وخارجها الصلاة في عينيها إلى وجهها تغطية يأ امرأة انتقاب كره (و)
الدين في الغلو من لأنَّه مطلقً فيه ويكره الصلاة غير في يُكره فلا قوم عادة يكن لم ما

Dan  dimakruhkan untuk wanita memakai niqab(cadar)  yang dimaksud adalah ia menutup wajah hingga matanya di dalam shalat and diluar shalat, and terutama lagi untuk lelaki(melakukan hal tersebut),dan jika bukan kebiasaan masyarakat/negeri maka makruh diluar shalat, and makruh(secara mutlak) di dalam  shalat  dan sesungguhnya itu perbuatan ghuluw(ekstrim/berlebih-lebihan ke kanan) di dalam beragama (Minah Al Jalil Syarh Mukhtashar  Khalil: Juz. 1, Hal. 136)

c. Menurut Sebagian Fuqaha Mazhab Syafii
1.c) Abu Ishaq al-Syairazi (468h)
أما الحرة فجميع بدنها عورة إلا الوجه والكفين لقوله تعالى ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها قال ابن عباس: وجهها وكفيها ولأن النبي صلى الله عليه وسلم نهى المرأة في الحرام عن لبس القفازين والنقاب ولو كان الوجه والكف عورة لما حرم سترهما ولأن الحاجة تدعو إلى إبراز الوجه في البيع والشراء وإلى إبراز الكف للأخذ والإعطاء فلم يجعل ذلك عورة

Artinya: Adapun wanita merdeka, maka seluruh tubuhnya merupakan aurat, kecuali wajah dan dua telapak tangan. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak dari padanya”. Ibnu ‘Abbas berkata (mengomentari ayat ini), ‘yang dimaksud adalah wajah dan dua telapak tangannya’. Dasar lainnya adalah karena Nabi SAW melarang wanita ketika ihram memakai sarung tangan dan cadar. Seandainya wajah dan telapak tangan merupakan aurat, Rasulullah tidak akan mengharamkan menutupnya. Alasan lainnya adalah karena adanya keperluan yang menuntut seorang wanita untuk menampakkan wajah dalam jual beli, dan menampakkan telapak tangan ketika memberi dan menerima sesuatu. Maka, tidak dijadikan wajah dan telapak tangan sebagai aurat.
(al-Muhazzab Juz 3 hal.173)

2c) Imam Ibnu Hajar Al-haitamy(973h) :  
لفتنة يجرّ إليها نظَر من خافتإذا  ما حاجتها من يكون أن ينبغي وجههاستر إلى المرأة احتاجت وأ قوله
ت الطر قا  فى وجهها ستر عليها  يجب لا قلنا وإن

(Telah berkata al-Imam an-Nawawi)  atau   jika perempuan   tersebut   perlu   untuk menutup wajahnya takut   menyebabkan   fitnah   bagi   orang yang   melihat   kepadanya. takut   menyebabkan fitnah   bagi   orang yang   melihat   kepadanya.   Namun  begitu sebagaimana   telah kami  nyatakan tidak   wajib   bagi  perempuan  untuk  menutup wajahnya  di   jalan-jalan (Hasyiah Syarhu al-Idhah 'ala Manasik al-Haj wal Umrah  li Nawawi  hal.178)

أنها على الإِجماع ينافيه ولا البصر غضُّ الرجال وعلى إجماعاً وجهها كشف لها يجوز إنه وجوبه العامة للمصلحة بذلك أمرها من يلزم لا لأنه بستره تؤمر

Sesungguhnya boleh bagi seorang perempuan untuk membuka wajah dengan kesepakatan   para   ulama   (Ijma')   dan   bagi   kaum   laki-laki hendaklah   menahan   pandangan.   kebolehan   membuka   wajah ini   tidak   bertentangan   dengan   ijma'   bahwa   perempuan diperintahkan   untuk   menutup   mukanya,   karena   tidak   mesti sesuatu   yang   diperintahkan   kepada   perempuan   untuk kemaslahatan   umum   itu   menunjukkan   bahwa   perintah tersebut sebagai kewajiban  (Hasyiah Syarhu al-Idhah 'ala Manasik al-Haj wal Umrah  li Nawawi  hal.276)


3c) al-Imam Zakaria al-Ansari(926h):

سافرات الخروج من أي ذكر مما لهن الولاة منع أي النساء منع على  الإتفاق من الإمام نقله وما ذلك وإنما طريقها في وجهها ستر المرأة على يجب لا أنه العلماء عن عياض القاضي نقله ما ينافي لا أبصرهم من يغضّوا للمؤمنين قل: تعالى لقوله عنهن البصر غض الرجال على و سنّة 

“Dan apa yang telah dinukilkan  oleh   al-Imam   (Imam   al Haramain)  tentang   adanya kesepakatan bolehnya  mencegah   perempuan   ke   luar   dari  wilayah   dalam   keadaan membuka   wajah,   ini   tidak   bertentangan   atau   menafikan   apa yang   telah   dikutip   oleh   al-Qadli   ‘Iyadl   dari   para ulama tentang   tidak wajibnya   menutup   wajah   bagi   perempuan   di jalan,  dan bahwa hal itu(menutup wajah) demikian  dikira  sunnah, dan   bagi   kaum   laki-laki   hendaklah   menahan  pandangannya (Asna al-Mathalib Syarah Raudhah at-Thalib, jld. 3, hlm. 110)


4c) Syaikh Ibrahim Al-Bajuri(1288h):
  اى إلَى شَيءٍ مِنْ امْرَأةٍ أجْنَبِيَّةٍ اى غَيْرِ مَحْرَمٍ وَلَوْ أمَةً قَولُهُ إلَى أجْنَبِيَّةٍ
 او خُوفِ فِتْنَةٍ عَلَى الصَّحِيْحِ كَمَا فِى المِنْهَجِ شَمَلَ ذَلِكَ وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا فَيَحْرُمُ النَّظْرُ إلَيْهِمَا وَلَو مِنْ غَيْرِ شَهْوَةٍ  ولاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَهُوَ مُفَسِّرٌ بِالوَجْهِ وَالكَفَّيْنِ وَقِيْلَ لاَ يَحْرُمُ لِقَولِهِ تَعَالَى
 وَالمُعْتَمَدُ الأوَّلُ وَلاَ بَأسَ بِتَقْلِيْدِ الثَّانِى لاَ سِيَمًا فِى هَذَا الزَّمَانِ الَّذِى كَثُرَ فِيْه خُرُوجُ النِّسَآءِ فِى الطُّرُقِ
وَالأسْوَاقِ

(Telah Berkata Mushannif: kepada wanita ajnabi ), kepada sesuatu daripada wanita ajnabi, yaitu yang bukan muhrim,meskipun budak. Hal itu mencakup muka dan kedua telapak tangannya, sehingga haram memandang muka dan kedua telapak tangan,meskipun tanpa syahwat atau rasa takut terhadap fitnah,menurut pendapat yang benar sebagaimana tersebut dalam kitab Al-Minhaj,Dan (mushanif berkata lagi) dikatakan: tidaklah haram(memandang) berdasar firman Allah ta'ala: "dan janganlah para wanita menampakan tempat perhiasan mereka kecuali apa yang nampak darinya. Apa yang nampak ini ditafsirkan dengan muka dan kedua telapak tangan. Pendapat yang dapat dipegangi adalah yang pertama.dan tidak mengapa mengikuti pendapat yang kedua(pendapat kebanyakan ashabi mutaqaddimin  , sebagaimana tersebut dalam Kitab Raudhah Al-Thalibin Juz 2 hal.455),lebih -lebih pada zaman ini yang banyak para wanita keluar ke jalan-jalan dan pasar.
(Al Bajuri juz 2 Bab Nikah Hal.97)


5c) al-Imam al-Faqih al-Muhaddits al-Mufassir al-Lughawi
Syaikh Abdullah al-Harari (Mufti Harar)

فلا حجة في قول بعض المتأخرين ممن ليسوا من أهل وجوه إنما هم نقلة إن ستر الوجه في هذا الزمن واجب على المرأة دفعًا للفتنة لا لأنه عورة لأمرين، أحدهما أن هذا القول أي اشتراط أمن الفتنة منها أو عليها لعدم وجوب ستر الوجه كما زعمه بعض الشافعية وهو مذكور في شرح المهذب وشرح روض الطالب وشرح الرملي على منهاج الطالبين، ليس منقولا عن إمام كالشافعي أو غيره من الأئمة ولا هو منقول عن أصحاب الوجوه في المذهب. وكيفما كان الأمر فالصحيح ما وافق النص. والمراد بالفتنة في هذه المسألة الداعي إلى جماع أو خلوة أو نحوهما كما صرح بذلك زكريا الأنصار 
 "Maka tiada hujjah dalam pendapat sebahagian golongan mutaakhirin ini yang mana mereka bukanlah terdiri di golongan Ahli wujuh. Apa yang dikutipkan mereka bahawa seorang wanita diwajibkan menutup muka pada zaman ini untuk menolak fitnah bukanlah disebabkan aurat yang terdapat dua perintah. Antara pendapat mereka hendaklah aman dari fitnah atau  berpegang dengan pendapat tidak wajib tutup muka, sebagaimana anggapan oleh sebahagian para ulama' asy-Syafi'i yang disebutkan dalam kitab syarah al-Muhazzab dan Syarah Raudha at-Thalib, syarah ar-Ramli keatas Minhaj at-Thalibin. Perkara tersebut tidak ada kesinambungan dari al-Imam asy-Syafi'i atau selain darinya dan tidak juga ianya diambil atau dikutip daripada Ashab al-Wujuh dalam mazhab. Walau bagaimanapun perintahnya yang paling benar ialah sesuai dengan nash(tidak wajib menutup muka). Jadi yang dimaksud dengan fitnah dalam masalah ini ialah jikalau seseorang mengajak untuk melakukan hubungan luar nikah(jima’), khalwat( berdua bersendirian) dan seumpamanya sebagaimana yang telah dijelaskan demikian dari al-Imam Zakaria al-Ansari." 
(Sharih al-Bayan fi Raddi 'ala Man Khalafa al-Quran, hal. 390)


d. Menurut Sebagian Fuqaha Madzhab Hanbali
1.d) Imam ‘Alauddin Al-Mardawi

الصحيح من المذهب أن الوجه ليس من العورة
“Bahwa yang benar dari Madzhab Hanbali adalah berpendapat wajah bukanlah aurat(didepan lelaki ajnabi).” (Al-Inshaf juz 1 hal. 452)

Demikianlah gambaran perbedaan ulama yang pro menutup wajah dan ulama yang kontra terhadap menutup wajah.

Name

akhlaq Aqidah biografi Dayah Download Dunia Muslim Fiqih Haji hijab Ibadah Islam jamaah Jinayah Jumat khutbah Masjid menulis mesjid Motivasi Muamalah Nikah PELAJAR Perpustakaan Puasa quote quran qurban Ramadhan safari santri sejarah Shalat Syar'i Tafsir Tarawih Tasawwuf Tauhid Thaharah tokoh Ulama Video Warisan zakat
false
ltr
item
Catatan Fiqih: Interpretasi Mengenai Aurat Wanita Secara Komprehensif
Interpretasi Mengenai Aurat Wanita Secara Komprehensif
http://3.bp.blogspot.com/-KGRbxKzvjhg/VTZZSLS2PLI/AAAAAAAADGQ/Bhhkybvi258/s1600/Lokman_Sokran_A_photo_Serie_Aurat_940.jpg
http://3.bp.blogspot.com/-KGRbxKzvjhg/VTZZSLS2PLI/AAAAAAAADGQ/Bhhkybvi258/s72-c/Lokman_Sokran_A_photo_Serie_Aurat_940.jpg
Catatan Fiqih
http://www.catatanfiqih.com/2015/04/interpretasi-mengenai-aurat-wanita.html
http://www.catatanfiqih.com/
http://www.catatanfiqih.com/
http://www.catatanfiqih.com/2015/04/interpretasi-mengenai-aurat-wanita.html
true
7393550621511658776
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All BACA JUGA LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago