Archive Pages Design$type=blogging

Kenapa Harus Bermazhab?

Di era kejayaan Umat Islam bahasa Arab adalah bahasa Internasional dan bahasanya dunia akademisi. Pada masa itu buku karangan kita ak...



Di era kejayaan Umat Islam bahasa Arab adalah bahasa Internasional dan bahasanya dunia akademisi. Pada masa itu buku karangan kita akan menjadi sangat bernilai tinggi jika ditulis dalam bahasa arab. Sehingga, pada saat itu kita tidak perlu repot-repot untuk mendapatkan nilai Toefl tinggi karena memang tidak dibutuhkan, tentu saja berbeda kondisi dengan sekarang, dimana dunia telah terbalik arah.

Tidak seperti bahasa yang lain, perbedaan baris saja dalam bahasa Arab bisa menyebabkan terjadinya perbedaan makna. Sebagai contoh, kalimat غسل jika dibaca dengan dhummah pada huruf  غ  (gruslu) akan bermakna mandi, namun jika dibaca dengan fatah غ   (graslu) artinya menjadi basuh. Contoh lainnya seperti kata حب . Jika kalimat tersebut dibaca dengan fatah kha (habb) artinya menjadi bijian, namun dengan kassrah kha (hibb) berarti mencintai. Namun demikian, cinta dalam bahasa arab semua berakar dari kalimat حب ,sehingga cinta itu terkadang didefinisikan laksana sebuah bijian yang tumbuh mengakar dari hati sehingga berbuahlah berbagai macam rasa yang indah.

Bahasa Alquran
Bahasa arab semakin berkelas karena AlQuran diturunkan dalam bahasa tersebut. Biarpun diturunkan dalam bahasa arab, namun belum ada satu makhluk pun yang sanggup menandinginya. Bahkan banyak ayat yang menantang mereka yang tidak beriman untuk bisa membuat yang serupa dengannya walau satu ayat saja. Sebagaimana ilustrasi di atas, perbedaan harakat bisa mempengaruhi makna kandungan Al-Quran. Seperti yang terjadi pada masa Abul Aswad Ad-Duali (w.688 M) dimana mushaf Al-quran masih belum dilengkapi dengan harakat seperti yang kita lihat sekarang, sehingga sangat rentan terjadi salah dalam membaca.

Ad-Duali pernah mendengar seseorang membaca ayat ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺮﻱﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ “Anna Allahabari'un-mina-l musyrikiin wa rasuulihi, (QS. At-Taubah : 3), seharusnya dibaca “Rasuluhu”. Jika diartikan akan sangat jauh berbeda. Bacaan pertama tersebut berarti “Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasulnya ...” Tentu saja arti tersebut menyesatkan, karena Allah tidak pernah berlepas dari utusanNya. Kalimat yang semestinya seharusnya berarti “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.” Hanya karena satu harakat, tapi mengubah arti yang begitu banyak.

Itu baru masalah baris, belum lagi mengenai penafsiran isi kandungannnya. 
Dalam Al-Itqan fil Ulumil Quran [1], Imam As-Suyuti menuliskan, sesorang baru boleh menafsirkan quran jika telah menguasai 15 (lima belas) cabang ilmu, diantaranya Ilmu Lughah, Nahwu, Sharaf, Isytaq, Ma'ani, Bayan, Badi',  ilmu qiraat, ushuluddin, ushul fiqih, asbabun nuzul, Nasikh mansukh, fiqih, serta hadist. Sehingga slogan kembali ke Al-Quran dan Sunnah tidaklah semudah lidah berucap, tidak bisa sembarangan seenak perut mentafsirkan quran, apalagi hanya bermodalkan terjemahan saja, perlu diingat bahwa terjemahan bukanlah penafsiran.

Ketika Hadis yang Saling Bertentangan
Setelah Al-Quran, hadist Rasulullah menduduki urutan selanjutnya sebagai pegangan utama dalam Ajaran Islam. Kedudukannya sama penting dengan Al-quran, dan hadist ini pula yang menjadi sumber utama yang menafsirkan isi Al-Quran. Lantas, apabila didapati sebuah hadist yang shahih apakah harus langsung dijadikan sebagai dalil begitu saja? Bahkan ada yang berkata lagi, bukankah Imam Syafi’i mengatakan "Apabila sahih hadits maka itulah mazhabku", sehingga jika kita mendapati sebuah hadist shahih ya ikuti.

Namun ternyata tidaklah semudah itu, sebab terkadang kita dapati ada beberapa hadist yang statusnya sama-sama shahih namun sekilas makna antara keduanya malah saling bertentangan, sehingga bukannya mendapat petunjuk malah membingungkan. Hal ini bisa terjadi karena terkadang lafaz suatu hadist masih Aam (umum), sementara yang lain Khas (Khusus), ataupun lafaz hadist tersebut memang sama-sama umum. Sebagai Contoh: Dalam sebuah Hadist Rasulullah Bersabda : “Sejelek-jelek saksi adalah orang yang bersaksi sebelum ia diminta untuk memberikan kesaksian”, sedangkan dalam hadist lain beliau bersabda : “Sebaik-baik saksi adalah yang bersaksi sebelum ia diminta untuk memberikan kesaksian”.[2]

Dari dua contoh hadist di atas, disatu kesempatan Nabi menyatakan “sejelek-jelek saksi”, dan pada hadist yang lain “sebaik-baik saksi”. Jelas sekali antara dua hadist ini terlihat saling bertentangan, namun oleh para Ulama menjelaskan kedudukan hadist pertama dibawa kepada suatu keadaan jika orang yang menuntut kesaksian itu sudah mengetahui isi kesaksian tersebut, oleh karena demikianlah Rasulullah mengecapnya sebagai sejelek-jelek saksi. Sementara hadist kedua dibawa kepada satu keadaan jika orang yang menuntut kesaksian itu tidak mengetahui isi kesaksian yang dimaksud [3]. Setelah ada penjelasan  dari para ulama maka jelaslah kedudukan masing-masing hadist sehingga tidak menimbulkan kontrakdiksi.

Kembali ke Quran dan Sunnah agar Hilang Khilafiyah?
Sering kita dengar bahwa mazhab dikatakan sebagai biang terjadinya perpecahan. Untuk itu umat harus dikembalikan ke sumber dasarnya, yakni quran dan sunnah agar terhindar dari khilafiyah. Namun nyatanya, perbedaan pendapat memang sesuatu yang tidak bisa dihindari, sebagai contoh dalam masalah iddah thalaq, Al-Quran menyatakan wanita yang dithalaq maka iddahnya adalah "tlasata quru" tiga kali quru. 

Dalam memaknai kata-kata "quru" timbul perbedaan pendapat, ada yang menyatakan bahwa quru itu bermakna suci, dan pula yang berpendapat bahwa quru itu justru bermakna haid. Lantas apa konsekuensinya? Bagi yang berpegang pada makna haid, apabila telah memasuki haid yang ketiga maka telah boleh untuk menikah lagi dengan lelaki lain. Sementara yang berpegang pada makna suci ya harus menunggu tiga kali suci dulu yang tentunya lebih lama dibanding tiga kali haid.

Namun kedua pendapat ini ada plus minusnya, untuk yang menyatakan quru bermakna haid biarpun nikah sah tapi tetap belum bisa melakukan hubungn suami istri karena sang istri masih dalam keadaan haid, sedangkan yang pendapat satunya jika siwanita telah menikah maka ya boleh melakukan apa saja karena dia telah suci dari haid.

Orang Awam Harus Mengikuti Ulama
Rasulullah telah berpesan bahwa Ulama adalah pewaris beliau, sehingga sebagai orang yang awam sudah sepantasnya mengikuti petunjuk-pentunjuk dari ulama, bukan malah sebaliknya. Sebab jika ilmu belum mumpuni namun nekat yang ada bakal nyasar dalam memahami dalil. Bukan dalilnya yang salah namun pemahamannya yang kurang benar. Bahkan Imam As-Syathibi (w. 790 H) dalam as-Muwafaqat menuliskan:

Fatwa-fatwa ulama mujtahidin bagi orang awam itu ibarat dalil syar’i bagi para mujtahid. (Ibrahim bin Musa as-Syathibi w. 790 H, al-Muwafaqat, h. 5/ 336).

Apa yang disampaikan oleh Imam As-Syathibi cukup beralasan, karena dalil syari’ bagi orang awam ibarat bahan mentah, jika tidak bisa memasak untuk apa diberi bahan mentah, bukankah lebih baik memakan saja apa yang telah diracik oleh para Imam Mujtahid yang memang sudah ahli dibidangnya.

Quran dan hadist bukanlah seperti buku petunjuk dalam sebuah perangkat elektronik yang menjelaskan semuanya secara step by step. Dan kembali kepada ulama adalah langkah yang jelas dalam memahami quran dan hadist.
Kita patut bersyukur karena para Imam Mujtahid telah membuat segalanya menjadi serba mudah, dari formulasi yang telah mereka ciptakan pemahaman terhadap quran dan sunnah pun menjadi lebih terarah. Dan lagi, pekerjaan yang dilakukan para Imam mujtahid ini adalah pekerjaan yang dilakukan oleh sekelompok ulama-ulama yang ahli. Tentu saja pekerjaan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang ahli dibidangnya bakal lebih dekat dengan kebenaran dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan seorang diri.

Catatan kaki
[1] Al-Itqan fil ulumil Quran, hal. 555
[2] Syarah Waraqat, Fasal Tentang Ta'arudh (Kontradiksi)
[3] Ibid
Name

akhlaq Aqidah biografi Dayah Download Dunia Muslim Fiqih Haji hijab Ibadah Islam jamaah Jinayah Jumat khutbah Masjid menulis mesjid Motivasi Muamalah Nikah PELAJAR Perpustakaan Puasa quote quran qurban Ramadhan safari santri sejarah Shalat Syar'i Tafsir Tarawih Tasawwuf Tauhid Thaharah tokoh Ulama Video Warisan zakat
false
ltr
item
Catatan Fiqih: Kenapa Harus Bermazhab?
Kenapa Harus Bermazhab?
http://2.bp.blogspot.com/-M5AvBni8yq0/VTZbkis3lOI/AAAAAAAADGw/Q4Z-xDWoRYI/s1600/800px-Madhhab_Map2.png
http://2.bp.blogspot.com/-M5AvBni8yq0/VTZbkis3lOI/AAAAAAAADGw/Q4Z-xDWoRYI/s72-c/800px-Madhhab_Map2.png
Catatan Fiqih
http://www.catatanfiqih.com/2015/04/kenapa-harus-bermazhab.html
http://www.catatanfiqih.com/
http://www.catatanfiqih.com/
http://www.catatanfiqih.com/2015/04/kenapa-harus-bermazhab.html
true
7393550621511658776
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All BACA JUGA LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago