Archive Pages Design$type=blogging

Penghormatan dan Pengagungan Bukanlah Penyembahan

Ta'dhim (pengagungan atau penghormatan tinggi) dan ibadah (penyembahan) adalah dua hal yang berbeda. Namun banyak yang keliru dalam...


Ta'dhim (pengagungan atau penghormatan tinggi) dan ibadah (penyembahan) adalah dua hal yang berbeda. Namun banyak yang keliru dalam memahami dua pengertian tersebut sehingga mengakibatkan pencampuradukan makna antara dua kata. Dan pada akhrinya orang akan menarik kesimpulan bahwa setiap "pengagungan" berarti "penyembahan," tanpa melihat kepada siapa "pengagungan" itu ditujukan.

Berdasarkan pengertian yang "main pukul rata" itu lalu orang berpendapat, bahwa mengagungkan Rasulullah saw. dan berdiri dengan sikap khidmat di depan makam beliau, dianggap sebagai sikap berlebih-lebihan yang dapat menyeret orang kepada sesembahan selain Tuhan. Pengertian seperti itu bukan hanya tidak sesuai dengan jiwa syariat Islam, bahkan dilihat dari sudut tata krama dan sopan santun pun pengertian itu tidak dapat dibenarkan.


Ketika Allah swt memerintahkan para malaikat bersujud di depan Adam sebagai tanda penghormatan dan pemuliaan, sama sekali tidak dapat diartikan bahwa Allah swt memerintahkan para malaikat supaya menyembah Adam. Mengenai peristiwa yang terjadi pada awal penciptaan manusia itu Allah berfirman dalam Alquranul-Karim :
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah : 34)

Dalam Tafsir Al-Munir dijelaskan bahwa sujud yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah dalam bentuk membungkuk sebagai pernyataan salam/sapaan tanpa unsur penuhanan. Contoh yang lain seperti sujudnya Nabi Ya'qub dan putra-putranya kepada Nabi Yusuf. Sujud ini, menurut mayoritas ulama hukumnya mubah.

DemikianJuga adat istiadat dan tradisi yang berlaku di kalangan masyarakat jawa. Tiap hari raya Idul Fitri atau Idul Adha pada umumnya orang Jawa, berjongkok (sungkem) di depan ayah ibunya masing-masing. Jongkok atau sungkem mereka itu sama sekali tidak dapat diartikan "penyembahan". Tidak terlintas sama sekali dalam hati dan pikiran bahwa mereka itu"menyembah"ayah-bundanya sebagai tuhan!

Jadi, kalau"sujud" saja tidak mesti berarti "menyembah" atau "mempertuhankan" sesuatu, apalagi kalau hanya sekadar "cium tangan" atau "berdiri khidmat" di depan makam Rasulullah saw.! Apakah sikap hormat seperti itu dapat dipandang berlebih-lebihan. Apakah kalau kita bersikap hormat, berdiri tegak dan menyebut kepada seorang kepala negara dengan "Paduka yang mulia", itu semua dapat diartikan bahwa kita "menyembah" atau "mempertuhankan" seorang kepala negara? Tentu saja tidak.


Begitu juga, dalam hal berbahasa, antara bahasa syair dengan kalimat biasa tentu sangat mencolok perbedaannya. Bahasa syair umumnya suka terlalu melebih-lebihkan, kalau dalam bahasa indonesia ada yang diistilahkan dengan bahasa yang mengandung hiperbola. Tentu saja maksud dari bahasa tersebut juga bukan penyembahan, namun hanya sekedar cita rasa seni semata.

Sikap kita terhadap Rasulullah
Ada banyak ayat Al-Quran yang menganjurkan kita untuk bersikap dengan santun terhadap Rasulullah, diantaranya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Hujarat : 1)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. (QS. Al-Hujarat : 2)

Dari ayat-ayat suci tersebut di atas dapatlah diketahui, bahwa kita diperintah memuliakan dan mengagungkan Rasulullah saw., kita dilarang berbicara dan bertindak mendahului beliau, ki ta dilarang bersuara keras datam percakapan dengan beliau, dan kita dilarang memanggil nama beliau seperti kita memanggil nama orang lain di an tara sesama kita.

Semua perintah dan larangan itu merupakan bentuk-bentuk tata krama dan sopan santun yang wajar, karena Rasulullah saw memang berhak dimuliakan dan diagungkan oleh umatnya.
Name

akhlaq Aqidah biografi Dayah Download Dunia Muslim Fiqih Haji hijab Ibadah Islam jamaah Jinayah Jumat khutbah Masjid menulis mesjid Motivasi Muamalah Nikah PELAJAR Perpustakaan Puasa quote quran qurban Ramadhan safari santri sejarah Shalat Syar'i Tafsir Tarawih Tasawwuf Tauhid Thaharah tokoh Ulama Video Warisan zakat
false
ltr
item
Catatan Fiqih: Penghormatan dan Pengagungan Bukanlah Penyembahan
Penghormatan dan Pengagungan Bukanlah Penyembahan
http://4.bp.blogspot.com/-KZavz-4udqM/VTZczYfZbSI/AAAAAAAADHA/TLtqMPlfgK0/s1600/92608_620.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-KZavz-4udqM/VTZczYfZbSI/AAAAAAAADHA/TLtqMPlfgK0/s72-c/92608_620.jpg
Catatan Fiqih
http://www.catatanfiqih.com/2015/04/penghormatan-dan-pengagungan-bukan.html
http://www.catatanfiqih.com/
http://www.catatanfiqih.com/
http://www.catatanfiqih.com/2015/04/penghormatan-dan-pengagungan-bukan.html
true
7393550621511658776
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All BACA JUGA LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago