Oleh: Saiful Hadi
Di tengah sebuah khutbah, seorang Arab Badui berdiri dengan polos dan bertanya tentang kapan datangnya kiamat. Pertanyaan itu memecah suasana, namun kala itu Rasulullah tidak menjawab dengan waktu atau angka. Beliau justru mengarahkan pada sesuatu yang lebih dalam, menanyakan apa yang telah dipersiapkan untuk hari itu. Dengan jujur, orang itu mengakui bahwa ia tidak memiliki banyak amal, hanya satu hal yang ia bawa: cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka datanglah jawaban yang menggetarkan sekaligus menenangkan, bahwa seseorang akan bersama dengan siapa yang ia cintai.
Dari kisah sederhana itu, kita seperti diajak memasuki sebuah jalan yang sunyi namun penuh makna. Jalan yang tidak dipenuhi perdebatan, tetapi dipenuhi ketulusan. Sebuah jalan yang tidak membelah, melainkan merangkul. Jalan cinta yang diwariskan melalui keteladanan hidup Rasulullah.
Alam telah lebih dahulu memahami bahasa cinta itu. Dikisahkan sebuah gunung yang kokoh, Gunung Uhud, bergetar saat Rasulullah berdiri di atasnya. Bukan karena takut, tetapi karena rindu. Sebuah getar yang tidak terlihat, namun terasa. Lalu beliau menenangkannya, seolah mengajarkan bahwa cinta tidak selalu harus meluap, kadang ia cukup hadir sebagai ketenangan yang dalam.
Di sudut lain kehidupan, seekor unta merintih dalam diam. Lelah oleh beban, letih oleh perlakuan. Rasulullah mendekat, mengusapnya dengan penuh kelembutan, seakan memahami bahasa yang tak terucap. Dari sana kita belajar, bahwa cinta tidak membutuhkan suara untuk didengar, cukup hati untuk merasakan.
Bahkan sebatang pohon kurma pun pernah menangis. Ia merindukan sandaran yang dahulu menghangatkannya. Ketika Rasulullah tak lagi bersandar padanya, ia merintih seperti bayi kehilangan pelukan. Dan tangis itu hanya reda saat beliau mendekapnya. Seolah alam berbisik pelan, bahwa cinta adalah ikatan yang hidup, yang tak pernah salah mengenali arah pulangnya.
Inilah jalan cinta itu. Ia tidak menuntut keseragaman, tetapi menghadirkan kelapangan. Ia tidak menghapus perbedaan, tetapi menjadikannya harmoni. Dalam cinta, manusia tidak lagi sibuk saling meniadakan, tetapi belajar saling menerima.
Kalimat “engkau akan bersama dengan siapa yang engkau cintai” seakan menjadi jembatan yang melampaui segala sekat. Ia mengingatkan bahwa pada akhirnya, yang mengikat manusia bukanlah kerasnya argumen, tetapi ke mana hatinya tertambat. Kita mungkin berjalan dengan langkah yang berbeda, tetapi jika cinta kita sama, maka tujuan kita pun tidak jauh berbeda.
Di sanalah persatuan menemukan maknanya. Bukan dalam kesamaan yang dipaksakan, tetapi dalam cinta yang dipelihara. Kita berdiri bersama dalam apa yang kita yakini, dan saling memberi ruang dalam apa yang tidak selalu sama. Karena cinta tidak pernah tumbuh di tanah yang sempit.
Rasulullah telah mencontohkan cinta yang tak terbatas. Dalam gelisahnya, beliau memikirkan umatnya. Dalam kekurangannya, beliau tetap mendahulukan mereka. Bahkan di ujung hayatnya, yang terucap bukan dirinya, tetapi umatnya. Cinta seperti ini tidak melahirkan jarak, tetapi mendekatkan yang jauh.
Maka pada akhirnya, perjalanan ini kembali pada satu tanya yang sunyi. Bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling tulus mencinta. Bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, tetapi siapa yang paling lembut menjaga.
Kita mungkin melangkah dengan cara yang tidak selalu sama. Bahkan seperti kaki kanan dan kaki kiri, keduanya tidak pernah bergerak dalam arah yang identik. Namun justru karena perbedaan itulah kita bisa berjalan ke depan. Tanpa salah satunya, perjalanan tidak akan pernah sampai. Begitulah seharusnya kita memandang perbedaan, bukan sebagai alasan untuk berhenti, tetapi sebagai cara untuk tetap melangkah bersama.
.png)
COMMENTS