Dalam sejarah Islam, tanggal 17 Ramadhan selalu hadir sebagai hari yang sarat makna. Pada hari itulah Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, sebuah peristiwa agung yang dikenal sebagai Nuzulul Qur’an. Pada tanggal yang sama pula, umat Islam meraih kemenangan besar dalam Perang Badar, pertempuran pertama yang menentukan arah perjalanan sejarah Islam.
Perang Badar bukan sekadar kemenangan militer. Ia adalah bukti nyata bahwa pertolongan Allah datang ketika iman, kesabaran, dan keyakinan bertemu dalam satu barisan. Sebagaimana firman Allah:
“Sungguh Allah telah menolong kalian dalam Perang Badar, padahal kalian dalam keadaan lemah.”
(QS. Ali Imran: 123)
Sejak saat itu, 17 Ramadhan menjadi simbol bahwa kemenangan lahir dari wahyu dan keyakinan kepada janji Allah.
Berabad-abad kemudian, semangat yang sama tampak kembali dalam sejarah ketika dunia Islam menyaksikan peristiwa besar pada tahun 583 Hijriah (1187 M). Pada tahun itu, Salahuddin al-Ayyubi berhasil merebut kembali kota suci Al-Quds dari tangan pasukan Salib setelah hampir sembilan puluh satu tahun berada di bawah kekuasaan Eropa.
Sejarawan besar Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Tārīkh al-Khulafā’ mencatat bahwa pada tahun tersebut terjadi banyak penaklukan besar di negeri Syam, namun yang paling agung adalah pembebasan Al-Quds. Keberhasilan itu merupakan puncak dari rangkaian perjuangan panjang yang dimulai dari kemenangan Shalahuddin dalam Battle of Hattin, yang membuka jalan menuju pembebasan kota suci tersebut.
Tafsir Ibnu Barjan dari Andalusia
Beberapa dekade sebelum pembebasan Al-Quds terjadi, seorang ulama besar dari Andalusia bernama Ibn Barjan telah menulis sesuatu yang mengejutkan dalam tafsirnya.
Ia menafsirkan ayat kedua dan ketiga dari Surah Ar-Rum:
“Bangsa Romawi telah dikalahkan di negeri yang terdekat, dan mereka setelah kekalahan itu akan menang kembali.”
Ibnu Barjan tidak hanya memahami ayat ini dalam konteks sejarah Romawi kuno. Ia menggunakan pendekatan numerik terhadap huruf-huruf Al-Qur’an melalui metode ʿilm al-ḥurūf. Dari perhitungan nilai huruf pada ayat tersebut, ia sampai pada kesimpulan bahwa kekuasaan Romawi atau Eropa atas Baitul Maqdis akan berakhir pada tahun 583 Hijriah.
Yang menakjubkan, tafsir ini ia tulis sekitar tahun 536 Hijriah, hampir lima puluh tahun sebelum pembebasan itu benar-benar terjadi.
Ketika Shalahuddin akhirnya mengibarkan panji Islam di atas kubah Baitul Maqdis pada tahun 583 H, tafsir Ibnu Barjan seakan menjadi nyata dalam sejarah.
Seorang ulama Damaskus, Abu Shama al-Maqdisi, bahkan mengakui keakuratan tafsir tersebut. Ia menegaskan bahwa apa yang dikatakan oleh Ibnu Barjan bukanlah kebetulan, karena tafsir itu ditulis jauh sebelum peristiwa penaklukan terjadi.
Kemenangan yang Penuh Kebijaksanaan
Ketika memasuki Yerusalem, Shalahuddin tidak menunjukkan kemarahan atau balas dendam. Ia justru menghapus sistem hukum Eropa yang telah berlaku hampir satu abad dan mengembalikan tanah wakaf kaum Muslimin kepada fungsinya. Beberapa gereja yang berdiri di atas tanah wakaf dijadikan madrasah dan pusat ilmu, banyak di antaranya mengikuti mazhab Syafi‘i.
Yang lebih mengagumkan adalah sikap toleransinya terhadap penduduk non-Muslim. Ia tidak menghancurkan tempat suci umat Nasrani. Sikap ini meneladani kebijaksanaan Umar ibn al-Khattab ketika pertama kali menaklukkan Yerusalem berabad-abad sebelumnya.
Pelajaran dari 17 Ramadhan
Jika kita merenungkan sejarah ini, tampak sebuah benang merah yang indah.
Pada 17 Ramadhan, wahyu pertama turun membawa cahaya petunjuk.
Pada 17 Ramadhan, kemenangan Badar membuktikan kebenaran janji Allah.
Dan berabad-abad kemudian, Al-Qur’an kembali memancarkan cahayanya melalui tafsir seorang ulama Andalusia yang mendahului peristiwa besar pembebasan Al-Quds.
Seolah sejarah Islam terus mengulang satu pesan yang sama:
kemenangan selalu berawal dari Al-Qur’an.
Dari Andalusia hingga Syam, dari pena Ibnu Barjan hingga pedang Shalahuddin, sejarah Islam memancarkan pesan abadi: kejayaan berpihak kepada mereka yang menjaga iman dan ilmu.
Pembebasan Al-Quds pada tahun 583 Hijriah bukan sekadar kemenangan militer, tetapi juga pengingat bahwa janji Allah dalam Al-Qur’an adalah kebenaran yang akan selalu terwujud bagi hamba-hamba-Nya yang berpegang teguh pada wahyu-Nya.
Ketika pedang Shalahuddin membebaskan Al-Quds, pena Ibnu Barjan telah lebih dahulu menyingkap waktunya. Sebab kemenangan sejati selalu lahir dari cahaya ilmu dan keyakinan kepada janji Tuhan.
- [message]
- Support Catatan Fiqih
- Catatan Fiqih berjalan atas kerja keras seluruh jejaring penulis dan editor. Jika kamu ingin agar kami bisa terus melahirkan catatan atau video yang mengedukasi publik dengan nilai-nilai Islam yang Rahmatan lil Alamin, silakan sisihkan sedikit donasi untuk kelangsungan website ini. Tranfer Donasi mu di sini:
Paypal: hadissoft@gmail.com | atau BSI 7122653484 an. Saiful Hadi

COMMENTS