Resume Kultum Zuhur oleh Saiful Hadi
Masjid Fathun Qarib, UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Selasa, 20 Ramadan 1447 H / 10 Maret 2026
Ramadan hadir setiap tahun dengan satu tujuan besar yang ditegaskan dalam Al-Qur'an. Dalam ayat puasa pada Surah Al-Baqarah ayat 183, Allah berfirman bahwa kewajiban puasa ditetapkan agar manusia menjadi orang-orang yang bertakwa.
Pada ayat tersebut terdapat kata “la‘alla” yang sering dipahami sebagai harapan, seolah-olah bermakna “semoga kalian bertakwa.” Namun para ulama menjelaskan bahwa penggunaan kata ini tidak selalu bermakna tarajji (pengharapan), melainkan dapat bermakna tahqiq, yaitu penegasan. Dengan demikian, ayat tersebut dapat dipahami sebagai penegasan bahwa puasa Ramadan adalah jalan yang pasti untuk membentuk pribadi bertakwa bagi orang-orang yang menjalaninya dengan benar.
Taqwa inilah yang menjadi tujuan utama Ramadan. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah proses pembinaan spiritual yang membentuk karakter seorang mukmin.
Dalam kultum tersebut juga diangkat kisah inspiratif dalam Surah Al-Kahfi ayat 82 tentang perjalanan ilmu antara Musa dan Khidr.
Dalam perjalanan itu, mereka sampai di sebuah kampung yang penduduknya bahkan tidak menjamu mereka. Namun di tempat tersebut Khidr melihat sebuah rumah milik dua anak yatim dengan dinding yang hampir roboh. Tanpa meminta imbalan apa pun, Khidr memperbaiki dinding itu.
Peristiwa ini membuat Nabi Musa bertanya, mengapa melakukan pekerjaan tersebut tanpa meminta upah, terlebih kepada penduduk yang tidak menghormati mereka.
Kemudian Khidr menjelaskan bahwa di bawah dinding itu tersimpan harta milik dua anak yatim tersebut. Jika dinding itu roboh, harta tersebut dapat terlihat dan berpotensi diambil oleh orang-orang yang tidak amanah. Oleh karena itu Allah memerintahkan agar dinding itu tetap berdiri hingga anak-anak itu dewasa dan mampu mengambil harta mereka sendiri.
Ayat ini ditutup dengan satu kalimat yang sangat penting:
“Dan ayah mereka adalah orang yang saleh.”
Kalimat ini mengandung pesan mendalam tentang peran kesalehan orang tua terhadap masa depan anak-anaknya. Kesalehan orang tua menjadi sebab Allah menjaga dan melindungi keturunan mereka, bahkan ketika orang tua tersebut telah tiada.
Kisah ini memberikan pelajaran penting bahwa kesalehan bukan hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga membawa keberkahan bagi generasi setelahnya. Harta dua anak yatim itu dijaga oleh Allah karena kesalehan orang tua mereka.
Karena itu, salah satu bentuk perlindungan terbaik bagi anak-anak dan generasi kita adalah kesalehan diri kita sendiri. Dengan kesalehan tersebut, kita tidak hanya menjaga diri di hadapan Allah, tetapi juga menghadirkan keberkahan bagi keluarga dan keturunan kita.
Lebih dari itu, kesalehan juga perlu diwariskan. Orang tua tidak hanya menjaga anak-anak dengan doa dan teladan, tetapi juga dengan menanamkan nilai kesalehan kepada mereka, agar nilai tersebut terus hidup dari generasi ke generasi.
Kita hari ini pun sebenarnya adalah penerima warisan kesalehan dari generasi sebelumnya. Nilai-nilai iman, ibadah, dan akhlak yang kita jalani tidak lahir dalam ruang kosong, melainkan merupakan buah dari kesalehan orang-orang sebelum kita.
Oleh karena itu, Ramadan menjadi momentum penting untuk memperkuat warisan tersebut. Setiap amal kebaikan yang kita lakukan dapat menjadi bagian dari investasi spiritual yang tidak hanya bermanfaat bagi diri kita, tetapi juga bagi generasi setelah kita.
Masih banyak kesempatan kebaikan yang dapat dilakukan sepanjang sisa Ramadan. Selain puasa wajib dan shalat-shalat sunnah, berbagai amal saleh dapat dikerjakan kapan saja dan di mana saja. Kita tidak pernah tahu amal mana yang menjadi sebab datangnya keberkahan dan keridhaan Allah.
Karena itu, sisa Ramadan ini hendaknya diisi dengan memperbanyak amal kebaikan, memperbaiki diri, dan memperkuat taqwa. Semoga melalui amal-amal tersebut Allah memberikan keberkahan kepada kita dan menjadikannya sebagai jalan menuju keridhaan-Nya.
Dan semoga pula kesalehan yang kita bangun hari ini menjadi warisan terbaik bagi generasi yang akan datang, sebagaimana kita hari ini menikmati warisan kesalehan dari generasi sebelum kita.
Wallahu a‘lam.
- [message]
- Support Catatan Fiqih
- Catatan Fiqih berjalan atas kerja keras seluruh jejaring penulis dan editor. Jika kamu ingin agar kami bisa terus melahirkan catatan atau video yang mengedukasi publik dengan nilai-nilai Islam yang Rahmatan lil Alamin, silakan sisihkan sedikit donasi untuk kelangsungan website ini. Tranfer Donasi mu di sini:
Paypal: hadissoft@gmail.com | atau BSI 7122653484 an. Saiful Hadi

COMMENTS